Minggu, 05 Januari 2014

Permainan Tradisional Benteng-bentengan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekarang ini sudah semakin maju. Banyak pembaharuan-pembaharuan yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah untuk bisa memajukan atau mengikuti perkembangan IPTEK tersebut. Perubahan yang dilakukan dibuat sedemikian rupa agar terjadi perubahan dan peningkatan kualitas dari sumber daya manusia atau yang sering dikenal dan disebut dengan SDM.
Untuk menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tentu harus bisa mendapatkan atau membuat bibit yang baik. Dalam dunia pendidikan formal, tempat untuk bisa menghasilkan atau mencetak bibit yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang bagus adalah di Sekolah Dasar. Di Sekolah Dasar pemberian akan dasar-dasar pengetahuan harus diberikan dengan baik dan tepat, apabila dari pemberian pengetahuan itu tidak tepat, maka tidak akan bisa untuk mencetak SDM yang berkualitas.
Tidak hanya pengetahuan yang harus diberikan di Sekolah Dasar, berbagai macam jenis pendidikan juga perlu diberikan kepada anak-anak Sekolah Dasar. Hanya berbekal pengetahuan saja, seorang manusia itu tidak akan bisa memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Jadi perlu diimbangi dengan pemberian pendidikan-pendidikan yang nantinya dapat mengimbangi dan mengiringi pengetahuan-pengetahuan atau ilmu-ilmu yang diperoleh oleh manusia itu sendiri.
Sebagai seorang guru, terutama guru yang bertugas di Sekolah Dasar, tentunya memiliki tanggung jawab yang besar. Seorang guru Sekolah Dasar harus menguasai semua materi yang diberikan di Sekolah Dasar. Tidak bisa jikalau seorang Guru Sekolah Dasar itu hanya menguasai satu mata pelajaran yang ada di Sekolah Dasar, semua mata pelajaran harus bisa dikuasai oleh seorang guru SD. Dan yang tidak kalah pentingnya, selain menguasai semua mata pelajaran di Sekolah Dasar guru harus bisa mengajarkan dan mentransferkan pengetahuan-pengetahuan tersebut.
Salah satu mata pelajaran yang ada di Sekolah Dasar yang harus dikuasai oleh seorang guru SD yaitu Pendidikan Jasmani. Mengajarkan atau memberikan ilmu pendidika jasmani kepada anak SD itu sangat penting. Dengan memberikan pendidikan jasmani kepada anak Sd, anak tersebut akan terbantu dalam memperoleh peningkatan kemampuan keterampilan jasmani, pertumbuhan, kecerdasan dan pembentukan watak. Pemberian pendidikan jasmani kepada anak Sekolah Dasar ini sangat penting, karena tujuannya berada dalam lingkup perkembangan fisik, gerak, mental, dan sosial anak Sekolah Dasar tersebut. Sehingga harapan bangsa dan Negara yang ingin mencetak SDM yang berkualitas bisa dicapai.
Untuk pemberian materi tentang pendidikan jasmani di sekolah dasar tidak terlalu berat, peserta didik cukup diberikan olahraga yang berupa permainan. Karena dalam fase anak di usia Sekolah Dasar ini anak masih dalam fase bermain. Banyak jenis permainan yang bisa diberikan di Sekolah Dasar, permainan tradisional untuk anak-anak bisa diberikan dalam pendidikan jasmani di Sekolah Dasar. Dengan memberikan permainan-permainan tradisional ini, secara tidak langsung kita melestarikan budaya-budaya yang kita miliki kepada generasi selanjutnya.
Untuk di daerah Bali sendiri terdapat berbagai macam jenis permainan tradisional. Setiap daerah memiliki permainan tradisional tersendiri. Ada beberapa daerah yang memiliki permainan tradisional yang sama, hanya saja yang membedakannya adalah nama dari permainan tersebut. Salah satu permainan tradisional di Daerah Buleleng adalah Benteng-bentengan. Permainan Benteng-bentengan ini tidak ada di daerah lain di Provinsi Bali. Oleh karena itu dalam penulisan makalah ini, penulis akan membahas dan menjelaskan mengenai permainan tradisional daerah Buleleng yaitu Benteng-bentengan.




1.2         Rumusan Masalah
Sesuai dengan pemaparan latar belakang yang disampaikan pada bab sebelumnya, penulis menarik beberapa kesimpulan yaitu :
a.         Apa itu permainan benteng-bentengan ?
b.        Bagaimana melakukan permainan benteng-bentengan ?

1.3         Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang disampaikan di atas, tujuan yang ingin dicapai yaitu :
a.         Untuk mendeskripsikan tentang permainan benteng-bentengan.
b.        Untuk memahami dan mengerti dalam memainkan permainan benteng-bentengan.

1.4         Manfaat
Sesuai dengan tujuan yang disampaikan di atas, maka manfaat yang diperoleh yaitu :
a.         Bagi penulis
Makalah ini kami buat untuk  memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Jasmani dan juga dapat menambah wawasan dan pengetahuan kami mengenai permainan tradisional benteng-bentengan. Selain itu juga, agar kami menjadi terbiasa untuk membuat dan menyusun karya tulis sebagai acuan dan pembelajaran dalam pembuatan tugas akhir skripsi.
b.        Bagi pembaca
Makalah ini kami harapkan dapat menjadi salah satu sumber informasi sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa maupun pembaca mengenai materi yang kami bahas dalam makalah ini.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1     Permainan benteng-bentengan
Dalam berbagai macam jenis permainan tradisional, Indonesia yang merupakan Negara dengan julukan Negara Seribu Pulau tentunya memiliki banyak jenis permainan tradisional. Untuk di Provinsi Bali saja permainan tradisional yang ada cukup banyak. Salah satu daerah di Provinsi Bali yaitu Buleleng. Daerah Buleleng atau kabupaten Buleleng ada beberapa permainan tradisional, salah satunya yaitu permainan benteng-bentengan.
Permainan benteng-bentengan adalah permainan tradisional dimana permainan ini dimainkan oleh beberapa orang untuk merebut dan mempertahankan benteng agar bisa memenangkan permainan. Sesuai dengan namanya, maka sebuah benteng dalam permainan ini merupakan tujuan atau inti dari permainan ini. Jika permainan ini tidak ada yang namanya benteng, maka tidak akan bisa memainkan permainan ini.

2.2     Cara memainkan permainan benteng-bentengan
Untuk dapat memainkan permainan tradisional ini sangat gampang. Ada beberapa hal yang harus dipenuhi dan diperhatikan.
a.        Lapangan
Permainan ini tidak memerlukan peralatan yang khusus dan banyak. Hanya memanfaatkan lingkungan sekitar dan daerah yang tidak terlalu kecil. Agar permainan lebih menarik atau lebih menantang, daerah atau area yang digunakan bisa menggunakan area yang luas.
Bebentengan dapat dilakukan dimana saja, baik di luar ruangan seperti: pantai, tanah lapangan, halaman, dan berbagai tempat terbuka lainnya. Bahkan di dalam ruangan bebentengan dapat dilakukan, hanya ruangan harus luas. Apabila kita akan menentukan tempat bermain dapat ditentukan di lapangan berukuran minimal 8 x 8 meter.
b.        Jumlah pemain
Permainan ini dibentuk menjadi dua kelompok sesuai dengan jumlah benteng yaitu dua buah. Setiap benteng minimal memiliki anggota 3 orang. Jumlah anggota dari kedua benteng harus sama, jika belum sama permainan tidak bisa dilanjutkan. Untuk batas maksimal jumlah pemain bisa disepakati oleh kedua belah pihak. Diusahakan agar jumlah pemain disesuaikan dengan luas area permainan. Ideal dari jumlah pemain dalam permainan ini adalah 6-7 orang untuk satu benteng.
c.         Fungsi benteng
Sesuai dengan nama permainannya yaitu benteng-bentengan, jadi harus ada yang namanya sebuah benteng. Dalam menentukan sebuah benteng kita bisa menggunakan lingkungan tempat bermain. Benteng-bentengan hanya memerlukan dua benteng saja, permainan tidak akan bisa dimainkan jika membuat benteng lebih dari dua. Benteng bisa ditentukan dengan sebuah tiang, tampul, pohon atau yang lainnya, asalkan berupa batangan yang berdiri kokoh. Ini bertujuan agar benteng tersebut bisa dipegang oleh semua anggota dari berbagai arah. Dan posisi dari setiap benteng harus saling berhadapan dengan jarak minimal 10 meter.
Dalam permainan bentengan ini, pohon atau tiang tidak saja berfungsi sebagai markas. Ia juga berguna untuk memperbarui kekuatan pemain agar dapat menangkap lawan yang berada di luar bentengnya lebih lama. Jika pemain dapat menangkap lawan tersebut sebelum menyentuh pohon atau tiang bentengnya, maka lawan yang tertangkap itu dianggap mati.
d.        Waktu permainan
Untuk memainkan permainan ini tidak diperlukan waktu yang khusus. Artinya berakhirnya permainan ini tidak ditentukan oleh waktu, melainkan dalam satu set permainan ini ditetukan ketika salah satu regu dapat menyentuh benteng lawan. Permainan akan tetap dilakukan sampai terjadi perselisihan skor antar kedua tim. Skor yang diinginkan juga tidak terbatas, tergantung kesepakatan kedua tim saat itu.
e.         Penentuan kalah menang
Permainan benteng-bentengan ini agar dapat merebut benteng lawan adalah dengan mematikan atau membunuh anggota benteng. Ketika semua anggota atau penjaga benteng sudah habis, kita bisa merebut benteng dengan menyentuh benteng tersebut. Intinya jika kita sudah menyentuh benteng lawan, meskipun dengan tidak membunuh penjaga benteng, berarti tim yang dapat menyentuh benteng menjadi pemenang.
f.         Aturan permainan
Untuk dapat menentukan siapa yang mati ketika disentuh adalah siapa yang lebih awal keluar dari benteng. Jika salah satu lawan keluar dari benteng, maka penjaga benteng yang satu harus berhadapan dan berusaha untuk mematikan pemain lawan. Agar pemain yang keluar dari benteng pertama selamat dari lawan, dapat dibantu dengan pemain kedua yang keluar dari benteng dan melawan pemain yang ingin mengalahkan rekan kita sebelumnya, dan begitu juga seterusnya. Dalam permainan ini, biasanya masing - masing anggota mempunyai tugas seperti penyerang, mata-mata, pengganggu, dan penjaga benteng. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal.
Jika pemain yang keluar dari benteng lebih awal kalah jumlah dari pemain lawan, pemain tersebut bisa kembali ke benteng agar selamat. Dengan menyentuh benteng kita sendiri, kita akan selamat dari serangan lawan. Jadi syarat untuk dapat mematikan penjaga benteng lawan adalah dengan menyentuh pemain lawan yang keluar dari bentengnya lebih awal dari kita.
g.        Cara mematikan lawan
Cara mematikan anggotanya sangat gampang, cukup dengan menyentuh anggota badan dari penjaga benteng lawan. Jika pemain melihat lawan keluar dari bentengnya, biarkan ia mendekat. Pilih salah satu dari teman satu kelompok yang mampu berlari cepat. Ketika dirasa jarak musuh dengan pemain sudah dekat, segera kejar musuh sekuat tenaga dan sentuh badannya. Setelah itu, segera kembali ke markas agar tidak dikejar oleh teman sang musuh. Jangan lupa untuk menyentuh pohon atau tiang agar kekuatannya pulih. Musuh yang terkena tadi tidak bisa ikut bermain karena sudah dianggap mati.


h.        Cara memainkan
Permainan ini dimulai dengan majunya salah satu pemain dari salah satu benteng untuk menantang para pemain dari benteng lawannya. Pemain dari benteng lawannya akan maju untuk mengejar. Jika pemain dari benteng penantang ini dapat terkejar dan dapat disentuh oleh pemain lawan, maka pemain penantang dinyatakan mati. Biasanya pemain penantang akan berlari menghindar atau kembali ke bentengnya sendiri. Teman-teman dari benteng penantang ini, akan mengejar pemain dari benteng lawan yang memburu tadi. Demikian seterusnya sehingga terjadi saling kejar mengejar antara pemain dari kedua benteng. Sering kali terjadi adalah salah satu benteng kehabisan pemain karena telah dimatikan dan bentengnya dikepung oleh lawannya.
i.          Manfaat permainan
Seperti yang dipaparkan diatas tentang cara memainkan permainan ini, permainan ini dapat melatih gerak badan pemain, bagaimana kita bergerak lincah agar kita tidak tersentuh oleh lawan, untuk melatih stamina, menumbuhkan kerjasama diantara teman, memupuk jiwa sportivitas yang tinggi untuk mengakui kekalahan, dan meningkatkan kesegaran jasmani.













BAB III
PENUTUP

3.1     Simpulan
Permainan tradisional benteng-bentengan merupakan permainan tradisional yang berasal dari daerah Buleleng dengan dimainkan oleh beberapa orang untuk merebut dan mempertahankan benteng agar bisa memenangkan permainan. Permainan ini dimainkan untuk merebut benteng lawan dengan cara mematikan lawan melalui sentuhan tangan ke anggota tubuh lawan.

Batu Lima



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan jasmani diperlukan di semua jenjang pendidikan terutama pada jenjang sekolah dasar (SD) karena pada masa usia sekolah dasar, pertumbuhan dan perkembangan anak disebut sebagai usia emas dan pada masa itu keadaan fisik maupun seluruh kemampuannya sedang tumbuh dan berkembang. Misalnya, secara fisik anak akan terlihat lebih tinggi atau lebih besar sesuai dengan bertambahnya usia. Oleh karena itu, penyelenggaraan pendidikan sebagai proses dalam pertumbuhan dan perkembangan berlangsung seumur hidup. Pendidikan jasmani merupakan salah satu alat yang sangat menentukan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak, karena pendidikan jasmani sangat erat kaitannya dengan gerak. Gerak bagi anak sebagai aktivitas jasmani merupakan salah satu tuntutan kebutuhan hidup yang diperlukan, yaitu sebagai dasar untuk belajar mengenal alam sekitar dalam usaha memperoleh berbagai pengalaman berupa pengetahuan dan keterampilan, nilai dan sikap, maupun untuk belajar mengenal dirinya sendiri sebagai mahluk individu dan mahluk sosial dalam usaha penyesuaian dan mengatasi perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Seiring dengan kemampuan berkomunikasi, anak menikmati permainan-permainan yang dikenalkan oleh orang dewasa. Permainan apapun akan dianggap menarik oleh seorang anak. Anak akan mengulang dan mengulang permainan yang telah dipelajari, apabila menemui hal yang baru dia akan mencoba hal baru tersebut tanpa memikirkan apakah akan berhasil atau tidak. Anak kecil memiliki kelemahan dalam hal konsentrasi, anak tidak dapat mempertahankan konsentrasi dalam waktu yang lama, sehingga anak akan sulit untuk diajari dan cenderung akan mengulang permainan-permainan yang disenangi. Setelah anak mengenal sosialisasi dan memiliki keterampilan dasar motorik anak akan senang dengan permainan yang bersifat aktif dan imajinatif. Permainan kejar-kejaran atupun petak umpet adalah permainan favorit anak sampai memasuki usia sekolah dasar kecil (kelas bawah). Yang perlu menjadi catatan bahwa anak sangat peka dengan musik. Dengan kemampuan alami dibidang imajinasi anak dapat secara otomatis mengikuti irama dan menciptakan gerakan atupun nyanyian yang baru berdasarkan imajinasi mereka.
Secara fisik dengan bermain anak melibatkan seluruh anggota tubuh untuk bergerak. Dengan bergerak maka anak mendapat rangsangan sehingga organ tubuh akan mengalami rangsangan dan membawa efek yang bagus untuk pertumbuhan badan. Secara konseptual permainan memberi efek mengembangkan keterampilan untuk memiliki ataupun meningkatkan bahkan pengayaan kemampuan gerak (maturasi). Bagi anak belajar itu adalah bermain dan bermain adalah belajar. Banyak pesan positif terkandung dari setiap permainan. Secara umum, permainan adalah sesuatu yang dimainkan untuk bermain yang bertujuan untuk memperoleh kesenangan. Permainan dibagi atas dua yaitu permainan tradisional dan permainan untuk modern. Di berbagai daerah khususnya di Bali, terdapat banyak jenis permainan tradisional misalnya pemainan batu lima yang akan dibahas pada makalah ini.

1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut.
1)   Bagaimana riwayat permainan tradisional batu lima?
2)   Apa sarana dan prasarana yang diperlukan dalam permainan tradisional batu lima?
3)   Bagaimana aturan permainan tradisional batu lima?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1)   Untuk mengetahui riwayat permainan tradisional batu lima.
2)   Untuk mengetahui sarana dan prasarana yang diperlukan dalam permainan tradisional batu lima.
3)   Untuk mengetahui dan memahami aturan permainan tradisional batu lima.


1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan  dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1)   Bagi mahasiswa
Makalah ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumber referensi mahasiswa untuk menambah pengetahuannya mengenai permainan tradisional batu lima.
2)   Bagi penulis
Melalui makalah ini penulis dapat memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pendidikan Jasmani.























BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Riwayat
Olahraga tradisioanal batu lima sesungguhnya telah dikenal di beberapa daerah di Bali. Permainan ini cepat populer di masyarakat karena mempunyai manfaat yang sangat baik terhadap pembentukan individu secara keseluruhan. Selain itu permainan ini sangat mudah untuk dilakukan karena tidak memerlukan biaya yang besar serta lebih cepat mendapatkan kesenangan bagi setiap pemain. Anak-anak baik putra maupun putri biasanya yang masih duduk di sekolah dasar (SD) sangat cocok untuk permainan ini, selaras dengan perkembangan jasmani dan rohani yang sedang memerlukan rangsangan yang berupa gerak. Permainan ini sudah berkembang sejak dahulu dan tidak diketahui secara pasti kapan mulainya begitu pula siapa yang mengembangkannya. Khusunya di daerah Buleleng permainan ini sudah dikenal di desa-desa, bahkan di Bali hampir disemua kabupaten telah mengenalnya hanya saja permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerah.
2.2  Sarana dan Prasarana
Ada beberapa ssarana dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang perainan batu lima yakni sebagai berikut.
a.       Peralatan
Dalam setiap cabang olahraga memang secara khusus mempunyai peralatan dan perlengkapan sendiri-sendiri. Pada permainan batu lima ini hanya diperlukan satu bola tenis dan lima lempengan batu, biasanya batu lempeng ini dibuat dari pecahan genteng. Pecahan genteng dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk agak bundar dengan diameter kurang lebih antara 4 cm sampai 5 cm dengan ukuran tebal kurang lebih 1 cm.
b.      Pakaian
Dalam permainan batu lima, sebaiknya pemain mengenakan pakaian olahraga, namun kenyataannya masih banyak pakaian yang dikenakannya itu adalah pakaian sehari-hari atau dapat mengenakan pakaian bebas.
c.       Lapangan Permainan
Lapangan main batu lima biasanya dapat mengambil tempat secara bebas berdasarkan kesepakatan dari pemain yang bermain dan tempat tersebut dianggap aman dan tidak menggangu lingkungan sekitar.

2.3  Aturan Permainan
Dalam permainan batu lima, tidak ada peraturan main yang mengikat, tetapi peraturan yang dipakai biasanya berdasarkan kesepakatan bersama antar pemain. Berikut ini akan dipaparkan mengenai aturan permainan batu lima tersebut.
a.       Jumlah Pemain
Permainan olahraga tradisional main batu lima ini dapat dimainkan oleh dua orang atau lebih. Dengan demikian permainan ini dapat dilakukan secara perorangan maupun secara beregu, dan dapat dimainkan oleh anak-anak usia sekolah dasar baik laki-laki maupun perempuan
b.      Jalannya permainan
1)      Sebagaimana biasa sebelum permainan dimulai, masing-masing regu akan mengadakan undian, dari hasil undian ini aka nada satu regu yang disebut regu penjaga atau regu lapangan dan satu lagi disebut regu pemukul.
2)      Regu penjaga salah satu dari anggotanya supaya berada lebih dekat dengan batu tumpukan atau sebagai penjaga dan berdiri dibelakang tumpukan batu lima. Kemudian anggota lainnya menyebar mencari tempat yang strategis.
3)      Regu pemukul akan dapat memukul secara bergantian sesuai dengan nomor urutnya masing-masing dengan jarak 3 meter atau dengan jarak yang telah ditentukan.
4)      Masing-masing anggota mendapat hak untuk memukul sebanyak 3 kali. Apabila sebelum tiga kali melempar sudah mengenai tumpukan batu lima, maka anggota yang melempar lari (menyebar). Tugas dari regu pelempar tadi berusaha untuk menumpuk kembali batu lima yang telah kena lemparan, disamping itu harus berusaha juga untuk menghindari lemparan bola (pukulan) dari lawan (regu penjaga). Pada waktu regu penjaga memainkan bola atau mengadakan lempar tangkap sebelum melakukan pukulan terhadap regu pemukul, sementara regu pemukul berusaha untuk menumpuk batu lima tersebut.
5)      Sebelum batu lima semuanya tertumpuk, kemudian salah seorang anggota regu pemukul kena pukulan/lemparan dari regu penjaga, maka akan terjadi pertukaran atau pergantian, yang semula menjadi regu penjaga akan menggantikan menjadi regu pemukul.
6)      Sebaliknya batu sampai tertumpuk, belum juga dari regu penjaga dapat memukul/mematikan regu pemukul, maka regu pemukul dapat menginginkan permainan tersebut dalam hal ini regu penjaga tetap menjaga tumpukan batu lima dan permainan dapat diteruskan lagi.
c.   Perwasitan
Dalam permainan batu lima ini tidak diperlukan adanya wasit, tetapi wasit langsung dari pemainnya sendiri. Dalam hal ini masing-masing anggota regu supaya dapat menjungjung tinggi sportivitas dalam  olahraga.

2.4  Komponen Aktivitas Fisik yang Dominan
Dalam permainan batu lima ini, unsur-unsur gerak yang dominan dilakukan oleh para pemain antara lain sebagai berikut.
a.       Ketepatan
b.      Kelincahan
c.       Kekuatan
d.      Daya tahan
Olahraga tradisional main batu lima ini termasuk permainan adu keterampilan, ketepatan, kelincahan dan kerjasama yang baik. Mengingat permainan batu lima dapat dimainkan oleh regu, jelaslah prinsip kerjasama antar pemain mutlak diperlukan. Oleh karena itu setiap individu harus memiliki sifat toleransi, saling percaya kepada teman rela berkorban demi menjaga kerjasama yang baik. Permainan batu lima harus mendapatkan kesenangan setiap individu yang melakukannya. Permainan batu ini sudah mendapatkan perubahan-perubahan atau modifikasi, kemudian untuk dikembangkan menjadi olahraga prestasi perlu ditinjau kembali secara seksama. Cidera bisa terjadi apabila pemain satu dengan pemain lainnya saling bertabrakan dan akibat lemparan bola yang keras.






























BAB III
PENUTUP

3.1  Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1)      Olahraga tradisioanal main batu ini sesungguhnya telah dikenal dibeberapa daerah di Bali. Permainan ini cepat popular dimasyarakat, karena mempunyai manfaat sangat baik terhadap pembentukan individu secara keseluruhan. Permainan tradisional batu lima sebenanya ada di berbagai daerah di Bali, hanya saja memiliki nama yang berbeda.
2)      Sarana dan prasana permainan tradisional batu lima terdiri dari peralatan, pakaian dan lapangan permainan.
3)      Aturan permainan radisional batu lima terdiri atas banyaknya jumlah pemain, jalannya permainan, serta perwasitan.

3.2  Saran
Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman para pembaca agar lebih memahami tentang permainan tradisonal yang ada di masing-masing kabupaten di Bali.